REVIEW
JURNAL
“
PENGARUH POLITIK DALAM BIDANG PENDIDIKAN “
Oleh : Nurtanio Agus Purwanto
DOSEN PENGAMPU : MUHAMMAD ARIFIN S.Pc, M,Pd
DISUSUN OLEH :
NAMEBAT SINAGA
NPM : 1702050092
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA
UTARA (UMSU)
T.A 2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Politik berasal dari bahasa
Belanda politiek dan bahasa Inggris politics, yang
masing-masing bersumber dari bahasa Yunani τα πολιτικά (politika -
yang berhubungan dengan negara) dengan akar katanya πολίτης ( polites -
warga negara) dan πόλις ( polis - negara kota
). Secara etimologi kata "politik" masih berhubungan dengan polisi, kebijakan.
Kata "politis" berarti hal-hal yang berhubungan dengan politik. Kata
"politisi" berarti orang-orang yang menekuni hal politik.
Negara itu sendiri adalah
suatu organisasi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah
dan ditaati oleh rakyatnya. Defenisi-defenisi ilmu politik kategori ini
belakangan juga dinilai masih bersifat tradisional dan agak sempit ruang
lingkupnya. Pendekatan ini dinamakan Pendekatan Institusional (institutional
approach ). Menurut Roger F Soltau (dalam buku Introduction
to Politics ):“Ilmu Politik mempelajari negara, tujuan-tujuan negar dan
lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu, hubungan antara
negara dengan warganya serta hubungan antarnegara (Political science is the
study of the state, its aim and purposes…the institutions by which these are
going to be realized, its relations with its individual members, and other
state ).
Pendidikan adalah
pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok
orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui
pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah
bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Etimologi kata
pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti
“menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti
“keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap
pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau
tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap
seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan
tinggi, universitas atau magang.
B. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan Penelitian
1.
Untuk
mengetahui apa saja hubungan antara potik dan pendidikan
2.
Untuk
membuat pembaca paham bagaimana politik bisa mempengaruhi organisasi pendidikan
3.
Bisa
lebih memahami bagaimana pendidikan politik yang baik dan benar
b. Manfaat Penelitian
1.
Agar
Pembaca dapat mempersepsikan politik itu sebagai hasil dari pendidikan yang
baik dan benar.
2.
Agar
mengetahui apakah pendidikan menunjang keadaan politik disuatu negara
3.
Agar
kita dapat mengetahui apa saja keterkaitan pendidikan terhadap dunia politik
4.
Agar
dapat diketahui pula apakah politik berpengaruh terhadap pendidikan.
c. Teori
yang Digunakan
1. H.A.R. Tilaar (2003: 143)
mengemukakan dua fungsi besar negara, yaitu: mewujudkan kesejahteraan bagi
rakyat banyak dan mempersatukan rakyat banyak tersebut dalam suatu wadah yang
disebut negara.
2. Michael W. Apple dalam Tilaar
(2003: 145) menjelaskan bahwa politik kebudayaan
suatu negara disalurkan melalui lembaga-lembaga pendidikannya sehingga dalam
pendidikan tersalur kemauan-kemauan politik atau sistem kekuasaan dalam suatu
masyarakat.
3.
Mochtar Buchori dalam Sindhunata (2000: 19-20) mengemukakan
alasan
kemerosotan periode saat ini dalam perpolitikan dalam tiga generalisasi, yaitu:hal. 1-11
a.
Perbedaan dalam perilaku politik disebabkan oleh perbedaan dalam mutu
pendidikan dasar yang mereka terima sebelum mereka memasuki kehidupan politik,
generasi Dr. Sutomo hingga Soekarno mendapatkan pendidikan dasar yang sangat
kuat yang mampu melahirkan kemampuan dan semangat intelektual yang tinggi dan
sebagai bekal yang lengkap dan memadai sebagai landasan kehidupan politik
dikemudian hari. Kondisi demikian tidak terjadi paska tahun 1945 dimana terjadi
kemerosotan mutu pendidikan kita secara cepat sehingga tidak mampu menghasilkan
seseorang yang tangguh dan profesional bukan sekedar figure semata.
b.
Perbedaan disebabkan karena politik sebelum kemerdekaan dihuni oleh “the
educated minority”, yaitu kelompok anggota masyarakat minoritas yang
mengenyam pendidikan cukup tinggi, sedangkan paska kemerdekaan dunia
politik dikuasai oleh golongan masyarakat yang relative kurang terdidik
tetapi mampu menggalang dukungan dari masyarakat.
c.
Perbedaan dalam Zeitgeist, perbedaan dalam semangat zaman antara zaman
sebelum kemerdekaan dengan era paska kemerdekaan. Semangat zaman periode
1908-1945 sangat berbeda dengan zaman yang hidup dalam masyarakat kita dalam
periode setelah kemerdekaan.
4.
John C. Bock dalam Zamroni (2000: 2)
mengidentifikasi peran pendidikan sebagai berikut: a) memasyarakatkan ideologi
dan nilai-nilai sosio-kultural bangsa, b) mempersiapkan tenaga kerja untuk
memerangi kemiskinan, kebodohan,dan mendorong perubahan sosial, dan c)meratakan
kesempatan dan pendapatan.
5.
Zamroni (2000: 3-5) mengemukakan peranan pendidikan dalam
pembangunan
nasional suatu bangsa
dan berkaitan dengan pengambilan keputusan dan kebijakan pendidikanberdasar
pada dua paradigma, yaitu:
a. Paradigma
fungsional, yang melihat kemiskinan dan keterbelakangan dikarenakan
masyarakat tidak
memiliki cukup penduduk yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap modern
b. Paradigma
sosialisasi, yang melihat peranan pendidikan dalam pembangunan adalah:
mengembangkan kompetensi individu, kompetensi yang lebih tinggi untuk
meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kemampuan warga masyarakat secara
keseluruhan.
BAB II
PEMBAHASAN
Kaitan antara pendidikan dan politik
sangat erat bahkan selalu berhubungan sehingga dengan keadaan tersebut dapat
kita ketahui bahwa politik negara sangat berperan menentukan arah perkembangan
pendidikan di suatu negara. Tidak berlebihan kiranya bila banyak ahli yang berpendapat
bahwa pendidikan sebagai salahsatu upaya atau sarana untuk melestarikan
kekuasaan negara. Michael W. Apple dalam Tilaar (2003: 145) menjelaskan bahwa
politik kebudayaan suatu negara disalurkan melalui lembaga-lembaga pendidikannya
sehingga dalam pendidikan tersalur kemauan-kemauan politik atau sistem
kekuasaan dalam suatu masyarakat.
Upaya menanamkan suatu prinsip, doktrin
dan kesepakatan-kesepakatan negara melalui pendidikan dilakukan dengan cara
yang tidak dapat ditelusur secara sekilas karena biasanya berada secara
implisit dalam suatu materi pendidikan atau kurikulum sehingga secara tidak
sadar sebenarnya masyarakat yang mengikuti dan memperoleh pendidikan telah
mendukung pula tujuan khusus negara tersebut.
Upaya untuk melestarikan kekuasaan negara secara umum dibedakan
Tilaar (2003:145-146)
dalam beberapa sistem atau pendekatan, yaitu:
a. Moralisme Religius, dalam
pendekatan ini Negara memberikan arah kepada pendidikannya
agar memelihara nilai-nilai moral religius yang dianut oleh
negara. Dalam sejarah pendidikan
hal ini dikenal pada zaman scholastic.
b. Masa Aufklarung, munculnya
intelektualoisme mendorong Negara mengarahkan pendidikannya kepada pengembangan
kemampuan berpikir yang merupakan dasar dari kemajuan. Intelektualisme
merupakan tujuan utama dalam pendidikan yang diarahkan oleh negara.
c. Perkembangan Nasionalisme,
dengan lahirnya Negara-negara bangsa pada abad 19, terutama sesudah revolusi
Prancis, maka pendidikan nasional merupakan tugas utama dari negara. Pendidikan
warga negara dilaksanakan di sekolah-sekolah dan mencapai puncaknya dalam pendidikan
totaliter seperti yang diselenggarakan oleh Nazisme, totaliterisme,
Fasisme, dan Komunisme.
d. Lahirnya Demokrasi, hal ini
dikenal terutama dalam falsafah pendidikan yang dikembangkan di Amerika Serikat
oleh filsuf John Dewey, yang mengatakan bahwa apabila kiuta berbicara mengenai
demokratis maka kita memasuki wilayah pendidikan. Pendidikan merupakan sarana bagi
tumbuh dan berkembangnya sikap demokrasi. Oleh sebab itu pendidikan tidak dapat
dilepaskan dari penyelenggaraan Negara yang demokratis.3
e. Pendidikan sebagai Pengembangan Sumber Daya manusia, pendekatan dari sudut ekonomi ini menunjukkan betapa pentingnya
factor manusia dalam pengembangan ekonomi. Kehidupan ekonomi menjadi sangat
penting dalam kehidupan bernegara. Oleh sebab itu Negara wajib mengembangkan
kemampuan sumber daya manusianya sebagai asset untuk perkembangan ekonominya.
Pendekatan ekonomis dan kebutuhan tenaga kerja menjadi sangat menonjol dalam pandangan
ini. Pendekatan ini menjadi sangat popular di negara-negara berkembang setelah perang
dunia kedua.
f. Pendekatan-pendekatan diatas mempunyai banyak kelemahan
terutama dalam kelanjutan
kehidupan suatu masyarakat. Krisis
ekonomi, krisis sosial yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa
pendekatan diatas mempunyai kelemahan-kelemahan. Salah satu pendekatan baru
adalah pendekatan kapital sosial merupakan suatu kekuatan yang menjamin adanya
integrasi dalam suatu masyarakat atau Negara dan juga merupakan kekuatan
ekonomi atau sumber daya manusia dalam suatu masyarakat. Pendekatan kapital
sosial menonjol dalam era globalisasi karena kecenderungan pupusnya rasa
persatuan dan menurunnya rasa nasionalisme akibat sikap eksklusivisme kelompok,
komersialisasi dan kehidupan santai dalam era globalisasi.
Didalam dunia pendidikan politik juga berperan dan
merupakan hal yang krusial bukan sekedar pelengkap saja. Hingga saat ini pandangan
masyarakat masih menganggap bahwa hal pokok bagi kemajuan suatu bangsa adalah ekonomi
dan politiknya. Hal itu tercermin dari pola pikir politikus kita yang selalu
berorientasi pada dua bidang itu. Sangat jarang politikus yang memprioritaskan
pada sektor pendidikan dalam agenda politiknya. Kondisi demikian juga terjadi
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, prioritas pembangunan kita masih
saja pada sector ekonomi, politik hankam, politik luar negeri dan belum pernah
sampai pada wacana untuk memprioritaskan pada sector pendidikan. Hal demikian
barangkali juga dipicu oleh pemahaman bahwa pendidikan tidak secara langsung
dapat diketahui hasilnya dan memerlukan biaya yang sangat besar sedangkan
sektor lainnya bisa dengan cepat diketahui hasilnya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kelebihan
Penulis
1. Jurnal
menyampaikan dengan rinci hal-hal yang terlibat dalam pembahasan tersebut.
2. Jurnal
memaparkan secara jelas dan lengkap mulai dari pendahuluan atau latar belakang
dari permasalahan apa pengaruh politik dalam pendidikan
3. Jurnal
ini sangat membantu kita para pembaca dibidang pendidikan maupun politik,
memberitahuakan kita bbetapa pentingnya kedua hal tersebut disuatu keadaan
sosial
B.
Kekurangan
Penulis
1. Space
penulisan kurang teratur, seperti font yang berbeda-beda tiap bab, ukuran.
2. Pembahasan
kurang menarik, dan terlalu monoton.
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=307152&val=455&title=PENGARUH%20POLITIK%20DALAM%20BIDANG%20PENDIDIKAN

